Rabu, 28 April 2021

MATERI FISIKA GEJALA GELOMBANG

 

GEJALA GELOMBANG

             Anda telah mengetahui bahwa gelombang dihasilkan oleh sumber getaran yang bergerak terus menerus. Dalam perambatannya, gelombang memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lainnya.

A.    Jenis-jenis Gelombang

Berdasarkan arah rambatnya, gelombang dikelompokkan menjadi:

1.     Gelombang transversal

Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatnya tegak lurus terhadap arah getarnya. Contoh gelombang transversal adalah gelombang permukaan air dan gelombang pada tali.

 

 


2.     Gelombang longitudinal

Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah merambatnya searah dengan arah getarnya. Bunyi merupakan salah satu contoh gelombang longitudinal. Gelombang longitudinal dapat digambarkan dengan gelombang yang terjadi pada slinki yaitu berupa rapatan dan renggangan seperti pada gambar di bawah ini.

 


  Berdasarkan medium perambatannya, gelombang dikelompokkan menjadi:

1.    Gelombang mekanik

Gelombang mekanik adalah gelombang yang memerlukan medium perambatan. Contohnya bunyi dapat kita dengar karena merambat melalui udara dan melalui zat padat misalnya pada telepon kabel. Sehingga medium perambatan gelombang mekanik dapat berupa zat padat, cair,


gas.


2.    Gelombang elektromagnetik

Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang tidak memerlukan medium perambatan. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik, sehingga cahaya dapat sampai ke bumi meskipun melewati hampa udara.


 

B.    Karakteristik Gelombang

Gelombang memiliki karakteristik misalnya refleksi, refraksi, difraksi, dan interferensi.

1.   Pemantulan Gelombang (Refleksi)

Ketika kamu berteriak di dekat tebing atau tempat-tempat tinggi, kadang terdengar gema. Gema merupakan pemantulan gelombang bunyi, jika gelombang mengenai suatu penghalang maka sebagian gelombang akan dipantulkan.

            Pada pemantulan terdapat hukum pemantulan yang berbunyi, “sudut yang dibentuk oleh gelombang datang sama dengan sudut yang dibuat oleh gelombang pantul.”.

 

2.   Pembiasan Gelombang (Refraksi)

Jika suatu gelombang datang pada suatu permukaan batas yang memisahkan dua daerah dengan laju gelombang berbeda, maka sebagian gelombang akan dipantulkan dan sebagian akan dibiaskan.

Pembiasan gelombang adalah pembelokan arah rambat gelombang dari satu medium ke medium lainnya.


Contoh gejala pembiasan gelombang dapat diamati pada gelombang air laut. Gelombang air laut akan membias ketika mendekati bibir pantai dengan kecepatan yang menurun secara bertahap. Jika kerapatan muka gelombang medium 2 lebih rapat dari muka gelombang 1, maka kecepatan gelombang dalam medium 2 lebih kecil daripada kecepatan gelombang dalam medium 1. Oleh karena itu, arah perambatan gelombang membelok mendekati garis normal dan sudut bias lebih kecil daripada sudut datang.

 

3.   Lenturan Gelombang (Difraksi)

Di dalam suatu medium yang sama, gelombang merambat lurus. Oleh karena itu, gelombang lurus akan merambat ke seluruh medium dalam bentuk gelombang lurus juga. Hal itu tidak berlaku jika medium diberi penghalang atau rintangan berupa celah.  Untuk ukuran celah yang tepat, gelombang yang datang dapat melentur setelah melalui celah tersebut. Lenturan gelombang yang disebabkan oleh adanya pennghalang berupa celah dinamakan difraksi gelombang.

Jika penghalang celah yang diberikan lebar, maka difraksi tidak begitu jelas terlihat. Muka gelombang yang melalui celah hanya melentur di bagian tepi celah. Akan tetapi jika penghalang celah sempit, yaitu berukuran dekat dengan orde panjang gelombang, maka difraksi gelombang tampak sangat jelas.


 


4.   Perpaduan Gelombang (Interferensi)

Ketika kita melemparkan dua buah batu di air, akan terbentuk pola gelombang berbentuk lingkaran yang berpadu. Perpaduan gelombang yang ditimbulkan disebut interferensi gelombang. Interferensi terbagi menjadi interferensi konstruktif dan destruktif.

Jika puncak gelombang bertemu dengan puncak gelombang lain (atau dasar gelombang bertemu dengan dasar gelombang lain), maka terjadi interferensi yang saling membangun yang disebut interferensi konstruktif, Namun, jika puncak gelombang bertemu dengan dasar gelombang, maka terjadi interferensi yang saling melemahkan yang disebut interferensi destruktif.

Dengan menggunakan konsep fase, dapat kita katakan bahwa interferensi konstruktif terjadi bila kedua gelombang yang berpadu memiliki fase yang sama. Amplitudo gelombang paduan sama dengan dua kali amplitudo tiap gelombang. Interferensi destruktif terjadi bila kedua gelombang yang berpadu berlawanan fase. Amplitudo gelombang paduan sama dengan nol.

Syarat terjadinya inteferensi pada gelombang adalah kedua sumber getaran harus bergetar serentak dengan amplitudo dan frekuensi yang sama yang disebut dua sumber yang koheren.


 


5.   Polarisasi Gelombang

Polarisasi tidak dapat terjadi pada gelombang longitudinal, misalnya pada gelombang bunyi. Polarisasi hanya terjadi pada gelombang transversal. Suatu gelombang terpolarisasi linier jika getaran dari gelombang tersebut selalu terjadi dalam satu arah saja. Arah ini disebut arah polarisasi.

Sebuah gelombang transversal pada tali dengan arah getaran pada satu arah saja, yaitu arah vertikal (dikatakan sebagai gelombang transversal terpolarisasi linier dalam arah vertikal). Gelombang lewat dengan mudah karena arah polarisasi gelombang sejajar dengan arah memanjang celah. Jika celah diputar 90o hingga arah memanjang celah menjadi horizontal, sehingga arah memanjang celah tegak lurus terhadap arah polarisasi gelombang dan gelombang terpolarisasi tidak dapat lewat karena celah menahan(menyerap) getaran tali dalam arah vertikal. Pada gelombang longitudinal arah getaran selalu sama dengan arah merambatnya sehingga arah memanjang celah tidak akan mempengaruhi gelombang.

 

           

 

 

 

Rabu, 20 Januari 2021

Mencari



Ada ragu dalam langkah yang kini dimulai

Bukan karena dermaga yang tak lagi terlihat

Apalagi kerikil tajam yang terus terasa menghunjam

Lelah tak lagi bisa surutkan tuk terus ke depan

Tak pedulikan lagi cuitan yang seolah jadi irama dalam ayunan

Kenapa tak kau hentikan saja pencarian?

Kala ragu kini menelusup dalam langkah yang tlah terarah


Terhenti sejenak

Tanya pada hati...masihkah kaki kan teruskan langkah

Atau kau kan mencari di persimpangan lagi

Disana tlah menunggu jawaban yang pasti

Terus menanti hadirmu kembali

Bersama asa yang kau bawa pergi


Memcari...

Terus tanpa henti

Hapus ragu dengan satu pilihan meski tiada tahu akhir nanti

Miliki hari ini...

Tiada risaukan masa nanti

Ku kan pastikan langkah meski tiada mungkin tinggalkan mereka tanpa hati



Pemalang, 210221.        11:21 WIB


Jumat, 15 Januari 2021

Langit Pagiku



Sentuhan lembut terasa menusuk kulit tanpa jeda

Semilir yang kian terasa menggigil di bawah suram temaram

Berjalan menyusuri jalanan sepi berselimut kabut

Menatap langit yang tiada jelas kupandangi

Kemana senyum yang biasa menyapa 

Tenggelam ia di tengah kelam yang kini terlihat nyata

Titik-titik embun menjadi teman menunggu hadirnya

Siapa pula yang bisa memberi harap?

Ragu pun selalu menyertai langkah tiada arah

Kian sakit bila harap akan esok yang entah kan datangkan suka atau duka

Menanti tanpa jeda

Asa masih tertinggal di tengah gelap gulita

Nantikan secercah harapan dari sang surya

Masihkah ia mampu sembuhkan luka

Yang kini makin dalam menimpa jiwa

Coba kuterka yang tak tentu ujungnya

Langitku masih di warna yang sama

Ia tak lagi mampu berikan senyum bahagia



Pemalang, 16012021.         10:36 WIB



Rabu, 25 November 2020

Ayo Lawan Kekerasan Berbasis Gender

 

AYO LAWAN KEKERASAN BERBASIS GENDER




         

            Berdasarkan hasil penelitian Koalisi Ruang Publik Aman tahun 2019, sekolah dan kampus menjadi salah satu ruang publik yang menduduki tempat ketiga  tempat terjadinya kekerasan seksual. Realita ini tentu menjadi hal yang memprihtinkan bagi smeua pihak karena lembaga lendidikan yang semestinya menjadi ruang yang nyaman untuk mereka yang sedang menuntut ilmu justru menjadi ruang yang tidak aman dan menjadi tempat terjadinya kekerasan.

            Akar masalah terjadinya kekerasan terhadap perempuan adalah Relasi Kuasa dan Ideologi Patriarki. Perempuan masih dipandang lebih rendah dibanding laki-laki baik secara kekuasaan maupun perbedaan secara biologis akan melahirkan ketimpangan gender, deskriminasi dan terjadi berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan.

Kekerasan terhadap Perempuan disebut juga Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Gender (gender based volience) adalah setiap Tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin, yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman Tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik  yang terjadi di ranah publik atau dalam kehidupan pribadi.

Berbagai jenis dan bentuk kekerasan terhadap perempuan yaitu: (1) kekerasan fisik; (2) kekerasan psikis; (3) kekerasan seksual; (4) kekerasan sosial; dan (5) kekerasan ekonomi. Sedangkan tempat terjadinya kekerasan terhadap perempuan adalah: (1) di dalam rumah; (2) di luar rumah; (3) di lembaga pendidikan atau pengasuhan; dan (4) di tempat kerja. Dari fakta tersebut dapat diketahui bahwa tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman tidak menjamin terhindarnya perempuan dari kekerasan. Demikian juga dengan pelaku kekerasan yang seharusnya adalah orang yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi perempuan justru bisa menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan itu sendiri.

Apa yang harus dilakukan agar kekerasan terhadap perempuan dapat dicegah dan dihentikan? Hal pertama yang harus dilakukan adalah penguatan Agensi Semua anak untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. Kedua, peningkatan aksesdan kualitas layanan perlindungan anak khususnya perempuan. Ketiga, peningkatan peran orangtua, keluarga dan anggota masyarakat untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. Keempat, peningkatan kerangka hukum, kebijakan, peraturan yang terintegratif dan terstuktur. Kelima yaitu penguatan koordinasi dan sinergi lintas kementrian/lembaga daerah, organisasi masyarkat, dunia usaha, mitra pembangunan  media untuk penghentian kekerasan terhadap perempuan.

Fakta kekerasan terhadap anak yang merupakan bagian dari kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Anak rentan menjadi korban kekerasan karena pola pikir anak yang masih sederhana, anak dianggap sebagai obyek/hak milik sehingga terabaikan suaranya/kepentingannya, ketimpangan  gender (budaya patriartis), dan sikap permisif dan kurang memahami konsep kekerasan terhadap anak sehingga lingkungan dimana anak berada kurang menerapkan perlindungan terhadap anak.

Apa yang dapat dilakukan untuk pencegahan kekerasan terhadap anak? Pertama adalah menerapkan perlindungan anak di semua unsur masyarakat; kedua adalah mendukung penerapan system peradilan dan perlindungan yang berpihak kepada anak; ketiga adalah edukasi terus menenrus tentang pola asuh positif dan setara kepada semua pihak terutama orang tua dan pendidik; keempat adalah edukasi seksualitas komprehensif dimasukkan ke dalam kurikulum yang juga mencakup kesetaraan gender, kelima adalah bekerjasama antar beragam kementrian/lembaga negara dan masyarakat untuk mengedepankan kebaikan untuk anak dan kesetaraan gender; dan yang keenam adalah memastikan pemahaman para pengajar akan cara pengajaran yang non kekerasan dan membaurkan nilai-nilai kesetaraan gender.

Ayo Bersama Lawan Kekerasan Berbasis Gender


 

(suminarsih)

Selasa, 20 Oktober 2020

Cerita Cekak 2

 

Gerimis Tengah Wengi



           Tik..tok..tik…tok… Suara jarum jam ing tembok ngancani Wita kang isih nggarap tugas saka guru seni rupa. Angin wengi ora dirasakake merga nggambar dadi salah siji kang dadi kesenengane. Rasa ngantuk kaya-kaya ora nyedaki dheweke nalika lagi dolanan kuas lan kanvas. Bola-bali bapake nginguk kamare kang lampune isih murup lan ngakon Wita enggal mungkasi pakaryane.

“Sekedhap malih Pak,” Wita sumaur karo isih nerusake anggone nyuntak opo kang ono ing pikirane dadi lukisan.

“Iki mono gambar opo to Nduk?” Bapake nyedhak karo nyetitekake gambar kang meh wae rampung iku.

“Niki gambar abstrak Pak, dadose nggih mboten sedaya mangertosi nopo isine,” Wita nyoba nerangake gambare marang bapake.

Pak Hardi mung manthuk-manthuk ngrungokake kang putri njelasake surasa ing lukisan kang mung isi garis-garis lan maneka warna bentuk kang ora jelas kuwi.

Wita pancen wiwit cilik seneng nggambar, jiwa seni kuwi sajake oleh saka ibune kang wis tilar donya. Ing omahe akeh lukisan gaweyane kang ibu swargi ngrenggani ruwang tamu, ruwang makan, lan kamar. Kamare Wita kang mawa cet warna ijo kuwi mawa gambar kembang lan maneka wit-witan kaya taman kuwi yo gaweyane Wita lan ibune rong tahun kepungkur sakdurunge ibune gerah. Lukisan ing tembok kuwi kang ngancani Wita nalika dheweke kangen marang kang ibu. Mbiyen ibune asring ngancani Wita nganti tengah wengi karo aweh saran murih gambare luwih apik sinambi rengeng-rengeng nembang macapat. 

Wektu rong taun tanpa ibune dudu perkara gampang kanggo Wita lan bapake. Dino-dino dilakoni kanthi ati kang tansah nelangsa nalika ibune wis ora ono nganti meh wae Wita ora duwe semangat nerusake sekolahe. Senajan saben dino bapake tansah ngelikake, nanging wektu semono atine during biso nrima takdire kang ibu tinimbalan ngersane Gusti. “Wita dherek ibu mawon Pak…,” ukara kuwi kang tansah dirungu Pak Hardi nalika nyoba aweh pangerten marang putrine. Bapake kanthi tlaten ngancani Wita sing saben esuk mara ing makame ibune.

**********

“Wita pengin iki lho Buk,” esuk-esuk Wita wis nuduhake gambar sepatu marang ibune kang lagi gawe sarapan. Ibune mung mesem sinambi nerusake anggone olah-olah.   

“Ngenjang Wita nderek nggih Bu tumbas sepatune,”

“Wis sarapane cepet Wit, kae lho bapak wis ngenteni, mundhut sepatune ora sah dipikir dhisik, mesti ibu karo bapak bakal nuruti opo sing mbok pengini,” ibune ngrewangi Wita nyepakake kothak kang isi wedang lan alat gambare Wita. Bu Nani rumangsa mongkok amarga Wita arep melu lomba nglukis tingkat kabupaten dina kuwi.

“Ora usah kesusu anggone nggambar lan aweh werno, disawang sing premati lan nganggo ati,” welinge ibune.

          Anggone Wita melu lomba nglukis lumaku kanthi lancer, didampimgi dening Pak Kusno minangka guru seni rupa lan dikancani dening bapake ndadekake Wita atine ayem. Nanging nalika dheweke arep ngumpulake asil gambare, ora ngerti kenang opo atine trataban lan ndadekake cet kang sacedhake wutah nelesi rok kang lagi dienggo. Wita age-age ngejak bali bapake, ora nunggu pengumuman asile lomba.

“Enggal wangsul mawon Pak, Wita selak kepingin kepanggih Ibu,”  

“Sik Wit, iki hapene bapak geter, ono sing ngebel sajake,”

Wita ora ngerti sopo kang lagi ngebel kuwi, nanging sajake ono bab kang wigati mergo bapake ketok ora jenjem lan kuatir.

“Saking sinten Pak?” Wita nyoba takon karo bapake.

“Seko kancane Bapak Wit, ayo ndang cepet bali,” cekak aos Pak Hardi anggone mangsuli. Kaya ono bab kang abot ono ing pikirane, nanging Wita mung biso mbatin.

“Niki badhe ten pundi Pak?” Wita takon amarga bapake ora nuju maring arah bali. Sing ditakoni mung meneng wae, malah anggone nggawa motor tansaya dibanterake.

Atine Wita tambah ora jenjem nalika ngerti yen sing dituju dening bapake rumah sakit. Sapa kang lagi gerah lan dirawat ing rumah sakit, kamangka dheweke wis ora duwe simbah. Sewu pitakonan ngebaki ati lan pikirane kang melu mlayu ngetutake lakune bapake kang sajak ora sronto anggone nggoleki pasien ing rumah sakit iku.

“Monggo Pak dipun aturi mlebet kepanggih dokter,” sawijining perawat mapag tekane Pak Hardi.

“Maaf adiknya nunggu di luar saja ya,”

Wita lungguh ing njaba ruwangan amarga ora diparengake melu mlebu ruwang rawat.

Wita kang isih during ngerti sopo kang lagi dirawat lan kenang opo kok bapake kang ditunggu dokter mung manthuk lan lungguh ing kursi sanjabane ruwangan iku.

*************

          Dino kuwi dadi dino kang pungkasan kanggone Wita ketemu ibune. Dheweke ora biso ngampet tangise nalika ngerti yen kang ibu mentas kecelakaan kang ndadekake ora sadhar. Kecelakaan kang dadi dalane ibune kapundhut kang Maha Kuwasa nalika mulih seko pasar. Wita rumangsa salah amarga ibune nang pasar saperlu nukokake sepatu kanggo dheweke.

“Kabeh kuwi wis takdire Kang Maha Kuwasa Nduk, dudu salahe sopo-sopo,” ngono pituture kabeh sedulur lan tangga teparone.

Nanging Wita during biso nampa kanyatan kuwi, dheweke nangis nganti pirang-pirang dino ing ngarep kuburane kang ibu.

          “Wit….opo Wita ora eman karo kang Ibu?” Anita kang dadi kanca sebangkune ing sekolahan nyoba ngrerimuk atine. Anita nyritakake uripe kang wiwit cilik ora ketunggon ibu. Ibune tilar donya nalika nglairake adine kang wektu semono umure isih telung tahun. Rasa syukur kanggone Anita, ono simbahe kang biso ngganteni momong dheweke lan adine. Nanging nalika Anita kelas papat, simbah kakunge sedo, uripe gumantung marang simbah putri. Kanggo mbantu simbahe, Anita ngrewangi gawe jajanan pasar sing dadi pakaryane simbah putrine lan saben esuk ngeterake ing warung-warung. Pakaryan kuwi dilakoni Anita nganti seprene, malah saiki anggone dodolan uga lewat sosial media ngenut majune teknologi.

          Crita saka Anita kang saksuwene iki ora dimangerteni dening Wita lan kanca-kancane dadi awal semangate Wita iso pulih lan dheweke gelem mlebu sekolah maneh. Wita pengin ibune seneng ing alam seje ndeleng dheweke nerusake bakate. Nalika asil lomba kang dieloni Wita diandharake sakbubare upacara bendera, pranyata dheweke kasil dadi juara siji lan bakal makili nang tingkat propinsi lan ugo kasil mlebu tiga besar tingkat propinsi.

“Matur nuwun ya An, wis ngelingake aku,” Wita ngajak Anita nalika nampa piala lan bebungah saka sekolahane.

Piala lan piagam iku saiki ngrenggane kamare ing sacedhake lukisan dheweke lan bapak ibune. Lukisan kang digawe ibune nalika umure sepuluh tahun minangka hadiah ulang tahune.

Dadio bocah kang tansah andhap asor lan eling marang Gusti Kang Maha Kuwasa” Ukara kang ngrenggani ing suwalike lukisan, pesene kang ibu kanggo Wita.

 

Senin, 07 September 2020

Refekesi Webinar Pusat Penguatan Karakter Bulan Agustus 2020

Mendidik Generasi Cerdas Berkarakter di Masa Pandemi


 

Hidup berdampingan dengan virus corona, menjalani kehidupan dengan tatanan baru yang dikenal dengan istilah new normal menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kehidupan kita akan kembali seperti sediakala mungkin masih belum dapat dicapai saat ini. Pandemi masih belum musnah, namun kita bisa tetap menjalani kehidupan dengan mengendalikan transmisi Covid-19.

Karakter menjadi salah satu tujuan utama Pendidikan maka harus dilakukan Pendidikan karakter sejak anak usia dini. Pengembangan sikap spiritual dan sikap sosial dalam kompetensi inti Kurukulum 2013 diharapkan menjadi pilar untuk mengembangkan karakter anak di sekolah. Karakter tidak akan terbentuk hanya dalam waktu singkat, perlu keteladanan dan kerjasama antara pendidik, orangtua, dan masyarakat untuk membentuk karakter yang baik dan kuat dalam diri anak.

Pusat Penguatan  Karakter Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan sosialisasi bagaimana pelaksanaan pembelajaran di era new normal pada bulan Agustus 2020 setiap hari sabtu mulai puku 10.00 WIB dengan tema yang sangat menarik dan materi yang sarat akan manfaat. Mendatangkan narasumber yang mumpuni dan inspiratif dengan moderator yang komunikatif serta kuis-kuis yang menarik menjadikan acara webinar disambut antusias oleh peserta.

Pada webinar yang dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2020 dengan tema: “Kurikulum Kondisi Khusus, Adaptasi Pembelajaran Kebiasaan Baru”, pengalaman dari narasumber baik tentang pembelajaran di sekolah maupun pendampingan orangtua di rumah menjadi salah satu referensi bagi guru dan orangtua dalam mendidik dan mendampingi putra putrinya belajar dari rumah. Refleksi Pendidikan di Era Pandemi diberikan oleh narsumber yaitu: “Mari cari cara dan solusi, bukan cari alassan”. “Belajar tidak cukup hanya menggairahkan, menentang, dinamis, dan menyenangkan saja, namun yang paling penting harus memberikan makna dan berdampak bagi murid di kehidupannya”. Kerjasama secara menyeluruh yakni orangtua, guru, sekolah, pemerintah, layanan pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci pembelajaran di masa pandemi COVID-19 berlangsung dengan sehat dan selamat.



Minggu kedua, sabtu tanggal 15 Agustus 2020 tema webinar adalah: “Sinergi Pembelajaran Kondisi Khusus”, dijelaskan bagaimana strategi dalam adaptasi pembelajaran di masa pandemi. Pembelajaran yang bermakna akan tercapai dengan materi yang kontekstual, konkrit, dan relevan melalui pembelajaran berbasis aktivitas, berbasis proyek, dan berbasis masalah. Kurikulum Kondisi Khusus akan berhasil dengan startegi pembelajaran yang tepat serta sinergi yang baik antara pendidik, orangtua dan masyarakat dalam mengawal siswa belajar dari rumah.

Webinar pada minggu ketiga dengan tema: “Mengelola Pembelajaran  Adaptif, Fleksibel, dan Akomodatif”, memberikan gambaran dan contoh bagaimana pembelajaran dilakukan di masa pandemi yakni dengan mempersiapkan perangkat ajar dengan melakukan pemetaan, analisis, dan penyederhanaan KD secara mandiri agar pembelajaran tetap memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Sedangkan webinar pada minggu keempat dengan tema: “Tetap Produktif di Masa Sulit, Vokasi Kuat Menguatkan Indonesia”, menghadirkan berbagi pengalaman narasumber yang luar biasa dalam karya nyata yang kreatif dan inovatif sehingga mampu membangkitkan motivasi bagi yang lain untuk tetap berkarya di masa pandemi. “Link and Match semua unsur pendidikan dan dunia kerja menuju kuatnya vokasi.

Mendidik generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter terlebih di masa belajar dari rumah membutuhkan kerjasama yang baik antara pendidik, orangtua, pemerintah, dan masyarakat. Pembelajaran yang bermakna akan diperoleh dengan kreatifitas dan perencanaan yang matang serta adaptif.

Selasa, 01 September 2020

Dokumentasi Pembelajaran Daring

 AKTIVITAS DAN DOKUMENTASI PEMBELAJARAN DARING


1. Media WatsApp Group dan Kumpulan Tugas 








2. Video Tugas Siswa


3. Media Teams Office 365











Koneksi Antar Materi 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

  COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK A.       Paradigma Berfikir Coaching 1.        Paradigma berpikir yang pertama adalah fokus pada  co...