Rabu, 06 Mei 2020

Puasa Bersama Bapak _part4

"Assalamu'alaikum.....Budhe Dul ada,"Rian bertanya sambil memperhatikan bunga mawar yang begitu swgar sedang dirapikan Budhe Ani.
"Masuk saja Rian, Dul ada di kamarnya,"tanpa menengok si penanya ia mempersilakan teman putranya itu.
Rian berlari kecil menuju kamar sahabat karibnya, dann benar saja diasana Dul sedang asyik di samping meja belajarnya, hingga salam Rian tak kunjung dijawab olehnya. Rian segera menghampiri dan duduk disamping Dul. 
"Serius sekali Dul,"sapaan Rian membuat Dul terlonjak dari duduknya. Ia terkejut dengan kedatangan Rian yang tiba-tiba.
"Aduh....hampir copot jantungku...kamu itu datang tak diundang, bikin kaget saja, mirip jailangkung,"Rian masih mengelus dada.
"Aku salam nggak dijawab, ya langsung saja duduk disini,"jelas Rian tak mau disalahkan.
"Ssstt...... bentar aku tutup pintu kamar dulu,"Dul memberi isyarat seolah ada sesuatu yang penting.
Ia mengajak Rian duduk di atas dipan setelah memastikan pintu tertutup rapat. Dikeluarkanya amplop coklat yang sedari tadi digenggamnya.
"Coba kamu lihat isinya Rian,"sambil ia menganggukkan kepala untuk meminta Rian segera membukanya.
"Kemarin aku tidak sengaja menemukannya ketika Bapak memintaku membereskan gudang, itu tersimpan rapi di lemari kecil. Tadinya aku hendak menanyakan sama Bapak, tapi setelah kulihat isinya sepertinya kamu yang harus mengetahui tentang semua itu."Dul memlerhatikan Rian yang sedang membuka album foto lama ditangannya.
"Ini Bapak.....Mbah Putri....ini siapa ya Dul?"Rian menunjuk gambar wanita yang ada diantara gambar Bapak dan Mbah Putri. Yang ditanya pun tak tahu dan belum pernah mengenalnya. Rian terus membuka lembar-lembar foto yang mulai pudar warnanya. 
"Kita tanya sama Bapak dan Ibuku saja nanti,"Dul memberikan usulannya. Rian terlihat setuju dengan apa kata Dul.
"Kamu pagi-pagi kesini mau apa, nggak biasanya," Dul balik bertanya. Rian pun menceritakan mimpinya, juga dengan perkembangan Bapaknya.
"Dari kemarin Bapak sudah kelihatan berbeda Dul, aku senang sekali,"sambil menerawang jauh Rian berkata.

Prang......prang.....suara keras terdengar dari sebuah kamar yang tertutup, mengagetkan seluruh penghuni rumah di pagi buta itu. Beruntung rumah mereka jauh dari para tetangga hingga suara gaduh tak mengganggu orang lain. Rian yang masih balita itu bersembunyi di balik pintu ketika Mbah Putri mendekati kamar Bapak. Tak berani ia mengikuti langkah neneknya yang hendak membuka kamar Bapak.
"Hasan...San....buka pintunya, ini emak....Rian juga menunggumu,"Mbah Putri berkata pelan sambil mengetuk pintu yang terkunci dari dalam. Rasa khawatir terlihat di raut wajahnya, suara barang yang berjatuhan masih terdengar.

"Bapak kenapa Mbah?"suara Rian terbata-bata dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Ia tak begitu mengerti tentang sikap Bapak yang kadang-kadang begitu memanjakannya, namun juga tak jarang ia akan mengamuk dan bertetiak keras. Meski tak pernah Bapak sekalipun melukainya, Rian selalu ketakutan dan berlari menjauh darinya.
"Bapak sayang sama Rian, Bapak hanya capek dan pusing,"begitu selalu jawaban yang ia dapatkan dari neneknya.
Tak ada tetangga yang berani berlama-lama di rumah kecil itu. Mereka akan mempercepat langkahnya saat melewati depan rumah sepulang dari sawah. Tatapan iba selalu terlihat dari orang-orang ketika Rian melihat ke arah mereka.
"Biar Rian saya asuh saja Mbah, saya besarkan bersama Dul, ia juga pasti senang ada temannya di rumah. Ani berkata pelan agar Hasan tidak mendengar perkataannya. Namun tiba-tiba Hasan telah berada di belakangnya. Wajahnya terlihat marah mendengar penuturannya.
"Maaf San, aku hanya ingin Rian ada teman bermain,"lirih ia berucap sambil tertunduk. Tanpa menunggu reaksi Hasan, ia bergegas pulang.
"Aku tidak mau ada orang yang membawa Rian jaub dariku,"Hasan berseru sambil membawa Rian masuk ke kamarnya.

"Rian...Rian.... "Dul menepuk pundak sahabatnya. "Kamu ingat Mbah Putri?"
"Bapak selalu membawaku kemanapun ya Dul,"Rian terlihat masih menyelami masa lalunya.
"Aku ikut senang mendengar Lik Hasan sudah mau shalat lagi, masak untuk kalian...semoga dia juga tak lagi membisu.....

Menjadi Bagian Sejarah dengan Menulis


Menjadi Bagian Sejarah dengan Menulis



Sejarah adalah peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi masa lampau. Orang- orang yang tertulis dalam buku sejarah yang biasa dipelajari di bangku sekolah merupakan tokoh yang berpengaruh terhadap jalannya kehidupan manusia. Ingin menjadi bagian sejarah atau hilang dari kehidupan? Generasi setelah saat ini yang akan melihat apakah kita tercatat di dalamnya.



Tema belajar menulis hari Rabu, tanggal 06 Mei 2020 adalah “Terbitkan Bukumu, Catatkan Sejarah”

Disampaikan oleh narasumber pendiri Tangga Edu, yakni Farah Dina, lahir di Jakarta, 17 Maret 1980. Menjalani pendidikan Teacher Training Program Jurusan Curriculum Theory di Tokyo Gakugei University dan pendidikan Master of Science in Multidiciplinary Studies di States University of New York serta Sarjana Jurusan Gizi Masyarkat dan Sumberdara Keluarga di Institut Pertanian Bogor. Narasumber ini yang telah menulis 20 judul buku tentang pendidikan untuk guru dan orangtua serta buku-buku bergambar untu anak.

Materi kali ini diberikan melalui tautan  youtube dengan judul Menulis Buku, Catatkan Sejarah: Menulis dengan 4R.

Berbicara dengan orang masa lalu dan dikenang dalam sejarah dapat dilakukan ketika membaca buku. Menerbitkan buku adalah salah satu cara menulis catatan abadi, mencatatkan dalam sejarah .

Seorang penulis harus pandai mengasah pikiran, intan terasah menjadi berlian. Penulis hadir karena ada pembaca, tanpa pembaca penulis tidak ada artinya.

Sebagai tulisan yang diterbitkan, hadirnya penulis dibarengi pembaca.            

Menulis dengan 4R, apa itu? Penjelasan yang dapat disaksikan dan di dengar dari penuturan narasumber yaitu:

1.      Renjana

Renjana adalah sesuatu yang amat menarik; sehingga melakukannya mudah dan menyenangkan, passion. Menulis sesuai passion akan mengalir, jika menulis tak pernah selesai teksnya maka apa yang ditulis tidak sesuai renjana.

2.      Rutin

Inilah kuncinya. Rutin menulis dan juga membaca, kosakata membaca itu sama dengan kosakata menulis. Penulis akan mengasah kemampuan dengan membaca. Diperlukan waktu khusus untuk melakukan kegiatan menulis.

3.      Review

Review merupakan proses terpanjang dalam menulis. Lakukan review, review, review.

4.      Ruang bagi Pembaca

Tanpa pembaca penulis tidak ada artinya, sehingga diperlukan ruang untuk pembaca. Bisa diadakan melalui feedback atau lainnya.

Berikut hal-hal yang dibahas pada sesi tanya jawab:

Menulis dengan 4Rmerupakan rangkuman dari pengalaman-pengalaman penulis yang hebat yang sudah menerbitkan banyak buku dan disukai. Mereka akan menulisyang betul-betul sesuai dengan renjananya lalu terbiasa menulis(rutin).

Untuk penulis pemula, jangan memusingkan tentang editing dan lain-lainnya, yang justru akan menghambatjadinya sebuah naskah. Kekuatannya di review, maka diperlukan ruang pembaca, tujuan kita menulis adalah untuk dibaca jadi perlu mendengar masukan dari pembaca.

Saat ini banyak buku best seller adalah buku-buku ilmiah yang disajikannya dalam bentuk populer, tidak penuh dengan data-data yang memusingkan. Bagaimana menampilkan “voice” pada buku populer atau membangun emosi, misalnya dengan memasukkan isi wawancara, atau data-data non formal yang lebih hidup.

Cara menentukan passion menulis dengan terus menulis, sehingga nanti akan kelihatan kecenderungan kita. Cara lain adalah melihat tulisan yang paling cepat diselesaikan dan merasa mudah ditulis.

Kunci agar menulis dengan 4R menjadi sebuah kesatuan utuh untuk saling melengkapi adalah dengan LAKUKAN, Tulis dulu apa yang mudah untuk kita, tapi perlu dipaksakan agar mejadi rutinitas.Selanjutnya kita akan menyesuaikan diri dan bisa menulis dengan genre apapun, tentu dengan latihan dan pembiasaan. Bahkan kita pun harus bisa menulis sesuai kebutuhan pembaca.

Menerima tanggapan negatif memang tidak mudah, jangan sampai itu medemotivasi kita dan menghilangkan jati diri kita. Saat menerima tanggapan pembaca, yang perlu kita ketahui adalah penangkapan pembaca terhadap hasil tulisan kita.

Kita siapkan diri untuk terbuka terhadap berbagai masukan. Tapi kita lihat, kalau dia tidak suka karena berkaitan dengan selera yang berbeda, maka di bukan target pembaca kita dan tulisan kita akan memiliki target pembacanya sendiri. Tapi kalau pembaca tidak sukanya karena interpretasi yang salah dari hasil karya kita, maka mungkin kita menuliskannya perlu diperbaiki.



Menulis sesuai passion, dan yang harus selalu dilakukan adalah rutin menulis, menulis setiap hari, lakukan review dan ingat menulis ditujukan untuk pembaca, maka beri ruang untuk mereka. Tanpa pembaca, penulis tak ada artinya.

Selasa, 05 Mei 2020

Tak Ada Alasan Untuk Tidak Menulis


Tak Ada Alasan Untuk Tidak Menulis

Berkomitmen untuk menulis setiap hari akan berhasil bergantung pada diri sendiri. Mudah saja kita mengatakan:”Hari ini sedang sangat sibuk atau nggak sempat nulis nih banyak acara”. Semua hal yang kita jadikan alasan untuk tidak menulis itu akan terus hadir ketika kita tidak berani mengalahkan diri sendiri. Akan ada “pembenaran” dari semua kealpaan dari menulis di keseharian kita.


Maka tepatlah kalau kali ini, tanggal 05 Mei 2020 di Grup Belajar Menulis yang dimotori oleh OmJay mengambil tema; “Menulis dalam Kesibukan”.

Narasumber kali ini adalah seorang dosen dari kota Surabaya, beliau juga seorang penulis yang sudah menggeluti dunia tulis menulis semenjak tahun 1986/1987. Tentu tidak diragukan lagi kualitas tulisan dari penulis yang telah membuktikan eksistensinya puluhan tahun ini.Bapak yang bernama Much. Khoiri dengan panggilan Bapak Emcho lahir di Madiun, 24 Maret 1965. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (1993) dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hongkong (1996). Seorang trainer pelatihan motivasi dan literasi. Dengan karya-karya yang telah banyak dimuat di media cetak, jurnal, dan online baik dalam dan luar negeri.

Beliau membuka pertemuan melaluin rekaman suara, dimulai dengan judul “Sopo Ora Sibuk”(Siapa Tidak Sibuk), “Menulis dalam Kesibukan”

“Semua orang itu sibuk dengan urusannya masing-masing, dari orang biasa sampai orang yang punya jabatan tidak orang yang tidak sibuk, bahkan orang yang main-main pun sibuk dengan mainannya.” Teman beliau bernama Ahmad Rifa’i Rif’an bahkan menulis buku yang menggambarkan ironi situasi dimana manusia yang seharusnya mengingat Tuhan, buku dengan judul “Tuhan Maaf, Kami Sedang Sibuk.”

“Kita manusia adalah subyek, jika tidak diikuti dengan kata kerja subjek hanyalah entitas yang mati, tanpa makna kontekstual, pada hakikatnya orang hidup itu pasti memiliki kesibukan, tapi apakah jika kesibukan dijadikan alasan untuk tidak berkarya?”

Dalam hukum alam dibalik kesibukan itu pasti ada kesempatan, tinggal bagaimana kita memenej kesibukan. Jika sikap kita positif pasti akan menghasilkan aksi positif, kalau sikap kita negatif pasti menghasilan aksi negatif atau bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Kita tidak boleh menyerah dengan kesibukan, kita akan melakukan kegiatan menulis bahkan kita akan memiliki kekuatan yang baik diri kita sendiri dan menikmati kesibukan.

Ingatlah “Penulis sejati akan mencurahkan daya dan pikirannya untuk menghasilkan tulisan, andaikata  ia tidak edang menulis pasti ia sedang memikirkan tentang hal apa yang ia hendak tulis. Ada waktu istimewa yang dipilihnya, yang paling nyaman, untuk larut dalam menulis. Ia tidak akan membiarkan hari pun tanpa menulis. Menulis sama wajibnya dengan membaca.”

Mengapa harus Menulis?

When you speak your words echo only across the room, or down the hall. But when you write, you echo down the ages.” (Bud Gardner)

Memiliki makna sederhananya begini: Apa yang kita angankan akan lenyap, apa yang kita katakan akan musnah, apa yang kita lakukan akan tak tersisa-kecuali ditulis. Ia akan abadi dan menyejarah. (mk)

Ungkapan magis dari Pramoedya Ananta:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sastrawan Budi Darma juga mengatakan:

“Begitu seorang pengarang mati, tugasnya sebagai pengarang tidak dapat diambil alih orang lain. Sebaliknya, jika dekan, camat  dan mantri polisi mati, dalam waktu singkat akan ada orang yang dapat dan mampu menggantikannya.”

Apa yang harus dilakukan agar dapat “Menulis Dalam Kesibukan?”

Mendidik Diri Menulis

Kita tidak hanya mampu mendidik siswa, namun juga harus bisa mendidik diri sendiri. Mendidik menulis bukan hanya membuat diri kompeten di bidang menulis, melainkan juga berani menegakkan prinsip “reward and punishment”. Memberikan hukuman terhadap diri sendiri ketika tidak menulis, dan memberikan hadiah untuk diri pribadi ketika melampaui target menulis.

Menulis Itu Berkomunikasi

Menulis itu berkomunikasi bukan hanya berekspresi,kalau hanya berekspresi itu sesuka kita, kalau menulis itu berkomunikasi maka kita berhadapan dengan pembaca. Jadi ada sesuatu yang disampaikan kepada pembaca. Kita dan pembaca harus dibayangkan seakan berada dalam satu forum, sehingga titik pandang seperti kata saya, Anda,  Saudara, dst.

Materi tulisan harus yang dibutuhkan pembaca, tulisan juga harus enak diikuti, diatur sedemikian rupa supaya hubungan kalimat dalam paragraf, hubungan antar paragraf, dan seterusnya supaya pembaca tertarik dan mengikuti sampai tuntas. Bahasa yang digunakan sesuai jenis tulisan apakah ilmiah, semi ilmiah, populer menyesuaikan jenis tulisan. Bahasa yang enak diikuti sehingga pesannya sampai kepada pembaca.

Berikut ada strategi jitu untuk “Menulis Dalam Kesibukan”,

1.      Tetapkan niat menulis

Apa yang membuat niat kuat untuk menulis. Niat dan keyakinan akan menjadi daya dorong sebelum bangkit, dan menjadi daya tahan ketika ada godaan. Niat dibagi dua, ada yang umum, sulit diraba(abstrak, filosofis) misalnya niat beliau disini untuk beramal. Niat yang pragmatis misalnya supaya dapat uang, supaya tenar, naik pangkat, dll.

2.      Rajinlah membaca

Ada ungkapan menarik, “orang rajin yang membaca itu seperti sedang melihat masa lalu dan masa depan.”

“Membaca itu biasanya mendahului menulis, dan getaran atau pemicu menulis itu dari membaca.”

“Ketika kau membaca buku yang bagus, suatu saat buku bagus itu akan keluar dari Anda.”

3.      Gunakan alat perekam

Jangan lupa alat perekam gagasan bisa berupa foto, video, direkam yang bisa minjadi sumber inspirasi dan kita tulis untuk memperkaya tulisan kita.

“ Pikiran manusia itu seperti payung, ia berfungsi paling bagus ketika terbuka, terima masukan dari siapapun.”

“Cara terbaik untuk memiliki sebuah ide yang bagus adalah memiliki banyak ide.”

4.      Kobarkan inspirasi menulis

Inspirasi itu ilham atau sesuatu yang akan membuat kita memunculkan ide yang bagus. Inspirasi itu bekal pengetahuan yang seseorang miliki. Inspirasi bisa dikonstrusi, bisa dikondisikan.  Seorang penulis tidak menunggu inspirasi.

5.      Tentukan waktu utama

Tentukan waktu utama menulis, apakah siang hari, malam hari, pagi hari. Tiap orang berbeda-beda, dan waktu utama ini tidak pada saat jam kerja dan merasa nyaman dengan waktu tersebut.

6.      Untuk pemula, menulis bebas

7.      Menulis di dalam hati

Merancang apa saja yang akan ditulis dalam hati.

Semua ide-ide yang sangat bagus itu datang pada kita secara spontan maka segera dipros, catat segera.

8.      Menulis di waktu utama

Silahkan menulis di waktu utama yang tadi telah ditentukan dan belajar disiplin dengan waktu yang ditetapkan.

9.      Manfaatkan waktu luang

Jika waktu utama masih kurang, maka gunakan waktu luang untuk melanjutkan.

10.  Menulis yang dialami

11.  Menulis yang dirasakan

12.  Menulis selaras minat dan pekerjaan

13.  Menulis dengan riang

14.  Menulis yang banyak

15.  Read better, write faster

16.  Buatlah motto yang dahsyat

17.  Menulis dengan doa

Materi di atas dapat dibaca secara lebih rinci pada buku Pak Emcho yang berjudul “Sopo Ora Sibuk” yang merupakan buku terbit pada bulan maret 2020 ini, yang digunakan sebagai hadiah ulang tahun diri beliau sendiri.

Beberapa hal yang menarik dari sesi tanya jawab yaitu:

1.      Memiliki prinsip bahwa membaca dan menulis itu wajib, maka menulis selalu dilakukan Pak Emcho dengan waktu khusus beliau jam tiga pagi sampai shubuh, menyelesaikan satu artikel, dan jika kondisi capek menulis puisi, saat sedang santai menulis cerpen, seluruh genre beliau tulis.

2.      Semakin banyak kegiatan, semakin pandai mengatur waktu sesuai kekuatan masing-masing. Catat jadwal setiap hari, mana prioritas, mengelola diri sendiri.

3.      Menulis biografi orang, kita sebagai orang ketiga, berdasarkan fakta dan data, mendapatkan informasi dari wawancara baik dari orangnya atau dari keluarga.

Jika autobiografi berarti menceritakan diri sendiri.

4.      Menulis itu siap untuk menjadi orang yang merendah, orang yang banyak belajar. Semakin banyak yang belum kita baca, banyak yang belum kita ketahui sehingga kita akan belajar terus.

Pesan Bapak Emcho adalah: “Kesibukan memang selalu ada, yang penting adalah bagaimana kita mensiasati kesibukan itu, sehingga kita bisa menunaikan tugas kita menulis. Banyak cara dari 17 strategi di atas, silahkan mana yang sekiranya bisa membuat Bapak Ibu melakukan kegiatan menulis.”  

Penjelasan yang cukup menarik dan srategi yang diberikan Pak Emcho menjadi acuan bagi kita semua untuk tetap menulis dalam aktivitas sehari-hari meski sedang sibuk. Jadi, “Tak Ada Alasan Untuk Tidak Menulis”


Senin, 04 Mei 2020

Berguru Menulis dari Sang Guru


Berguru Menulis Buku dari Pengalaman Sang Guru



Pepatah “Pengalaman adalah guru terbaik” memang tepat, telah banyak hal-hal yang dipetik dari sebuah pengalaman untuk diambil hikmah dibaliknya untuk memperbaiki langkah ke depan. Tak hanya dari pengalaman pribadi kita belajar tentang kehidupan, namun tak jarang berkaca dari orang lain pun jadi sebuah pertimbangan untuk menentukan keputusan. Tidak terkecuali dalam dunia tulis menulis, pengalaman orang-orang yang telah bergelut dengan dunia penerbitan menjadi “Guru” yang sangat dibutuhkan penulis-penulis baru.



Pertemuan Belajar menulis pada tanggal 04 Mei 2020 ini akan menyimak pengalaman dari penulis buku “Menghimpun yang Terserak”. Sebuah buku yang lahir dari kumpulan tulisan-tulisan Bapak Ukim Komarudin. Beliau adalah salah satu Guru SMP Labschool, Penulis, dan Motivator.

Pengalaman yang sangat menarik disimak bagaimana perjalanan kebiasaan menulis yang kemudian dilirik oleh orang-orang di sekitar hingga penerbit.  Penuturan Pak Ukim tentang menulis yang telah menjadi suatu kebutuhan  tanpa peduli dengan ragam apapun yang menjadi trend yang ada di masyarakat, menulis merupakan “ekspresi pribadi”. Dengan menulis ia memiliki tempat untuk mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya.

Tulisan yang apa adanya, apa saja, terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian. Setiap saat diisi oleh menulis.

Ada cerita yaang menarik ketika proses menerbitkan buku dalam cerita beliau:

“Saya banyak mendapat pelajaran menyengkut hal-hal yang tadinya tidak saya pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya membuat saya tidak nyaman karena menabrak prinsip menulis saya. Umpamanya: “Apakah ketika saya menulis buku “Menghimpun yang Berserak” memperkirakan akan laku atau tidak?” Kalau sudah ada, apakah buku saya punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku saya? Untuk kepentingan pasar, “Apakah saya bersedia apabila beberapa hal terjadi penyesuaian (diganti)? Dst. Terus terang saya merasa kurang nyaman dengan interview itu. Saya merasa diam-diam mulai “dipenjara”. Inikan ekspresi pribadi saya, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi? Menyebalkan!”

Pengalaman interview tersebut beliau ceritakan pada teman yang telah menjadi penulis. Ternyata apa yang dialami itu baik dan harus disyukuri. Proses menulis melibatkan tim agar tulisan yang dibuat sampai kepada pembaca. Tim akan membuat karya-karya penulis dapat dinikmati orang banyak. “Sebagai pemula, karya saya harus dipoles sana  sini.”

Jika nanti naskah itu bisa melewati editor, maka proses “menjadi” memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya.


“Yang sangat penting dalam proses kreatif saya yakni menerima dami atau calon buku yang sama persisi jika akhirnya bisa dicetak. Saya gembira sekali menerima buku dami itu. Saking gembiranya, saya menandatangani saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi memang saya menulis bukan untuk hal itu.” Akhirnya saya mendapat konfirmasi ketika saya dapat kabar bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya buku saya. Pertama saya menerima buku pribadi sejumlah 5 buku yang berstempel tidak diperjualbelikan, kedua, saya diajak bicara terkait teknis launching buku “Menghimpun yang Berserak”. Ketiga, saya diberitahu bahwa penerbit menerbitkan  jumlah yang diterbitkan pada penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan saya baru akan mendapa t royaltinya.”

Beberapa buku berikutnya juga memiliki proses yang kurang lebih hampir sama dengan buku pertama beliau tersebut. Dan buku terbaru beliau saat ini berjudul “Ariaf Rachman Guru”.



Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran pada sesi tanya jawab diantaranya:

1.      Kriteria layak atau tidaknya sebuah buku terkait buku pelajaran: (1) menunjukkan penggunaaan pendekatan baru (2) lebih lengkap, (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa, (4) naskah renyah/enak dibaca, dan diutamakan dari hasil penelitian lembaga-lembaga perndidikan terbaik.

2.      Buku itu seperti anak, dia ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas, ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya. Tidak semua buku diterbitkan oleh Pak Ukim, yang menarik buat beliau yang ditulis, tak peduli dilirik penerbit atau tidak.

3.      Menulis itu harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan sendiri. Ada tipe sprinter, maka pilih cerpen. Ada tipe marathon maka pilih novel. Mungkin bertahap, dari lari jarak pendek, karena latihan akhirnya lari jarak jauh.

4.      Ada yang disebut Premis(tema besar). Biasa terdiri dari satu paragraf. Hebatnya ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulai dari itu.

5.      Permasalahan penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor, akhirnya nggak jadi-jadi.

Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor.

6.      Bagaimana ya memulai menulis?

Mulailah menulis dengan membaca buku-bukuyang diduga akan mirip ekspresi bentuknya seperti buku yang akan dibuat. Mulailah mmebaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat kita, dari sini akan muncul standar untuk diri sendiri.

7.      Penulis yang baik memang pembaca yang baik. Banyak-banyklah membaca sehingga akan mampu menulis. Menulis produktif pasokannya adalah membaca(receptif).

8.      Untuk menulis buku pelajaran bisa dimulai dari modul atau serpihan bab sebagai pegangan siswa. Mintalah  masukan dari anak-anak agar menjadi lebih baik dan layak diterbitkan.

9.      Proses penulis pemula untuk menerbitkan buku di penerbit mayor, dengan mengirimkan tulisannya ke penerbit yang isi kemasannya adalah: (1) surat yang menjelaskan maksud, (2) naskah dalam bentuk print out. Minta tanda terima jika itu diantarkan langsung dan tanyakan kapan mendapat tanggapannya.



(Menulis menjadi sebuah kebutuhan akan menjadikan diri sendiri konsisten dalam mencurahkan semua hal yang ditangkap pancaindera ke dalam tulisan. Tulisan akan menerima jalannya masing-masing, apakah itu diterbitkan dalam bentuk buku ataukah menjadi bahan referensi bacaan pembaca. Menulislah tanpa harus memilkirkan kemana ia akan berlabuh).

Sabtu, 02 Mei 2020

Menembus Penerbit Nasional


Menembus Penerbit Nasional



Melihat judul di atas tentu hal yang sangat diimpikan oleh para penulis. Bagaimana cara agar tulisan kita diterbitkan oleh penerbit nasional? Sebuah pertanyaan yang wajar dari seorang penulis pemula seperti saya. Penasaran mendengar cerita pengalaman orang-orang yang telah menjadi penulis-penulis hebat di negeri ini.



Materi kali ini diawali dengan melihat dan mendengar peneuturan narasumber dari channel youtube. Narasumber adalah Bapak Amir Faisal, Praktisi Bisnis dan Konsultan Marketing, Trainer, yang awalnya bukan seorang penulis buku, beliau awalnya adalah seorang mandor proyek. Pertama belaiu masuk memberikan training untuk anak-anak. Kemudian terpikir untuk Personal Branding, karena jika menulis dan buku terbit di penerbit nasional bisa dikenal secara nasional.

Penerbit nasional di Indonesia adalah Gramedia, satu-satunya penerbit nasional di negeri ini yang outletnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Buku yang diterbitkan oleh Gramedia minimal bertahan 6 bulan, ketika sirkulasi buku tidak bergerak maka akan terhenti.  Begitu beliau menuturkan tentang bagaimana menulis di penerbit Gramedia.

Yang perlu kita ketahui, jika kita ingin menuliskan buku di Gramedia adalah bahwa hal utama yang jadi pertimbangan adalah buku yang diterbitkan harus mendatangkan keuntungan atau buku yang disukai oleh pasar.

Yang pertama, harus mengenal genre kita

 kemudian cari buku-buku yang sesuai genre tadi,

Yang Kedua, yang disukai pasar

Mengetahui pasar dihasilkan dari hasil research berdasarkan penjualan buku dan kuisioner yang dilakukan oleh penerbit.

Buku Gramedia saat ini yang paling disukai pasar adalah Novel, travelling, komik, motivasi.

Bapak Amir Faisal adalah penulis buku motivasi. Beliau seorang Trainer yang awalnya hanya mentraining anak-anak sekolah, kemudian membuat tantangan untuk diri sendiri mentraining guru. Dengan mempelajari buku-buku pendidikan, buku-buku psikologi beliau berhasil menjawab tantangan tersebut.

“Intinya tentukan dulu visi/dream Anda, kenapa inginjadi penulis, lalu hadapi tantangan-tantangannya dengan gagah berani,” begitu penuturan Bapak Amir Faisal.

Langsung dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, diantaranya:

1.      Apakah mengirimkan naskah pada seperti Gramedia dikirimkan full naskah ataukah hanya beberapa bab?

Yang  biasa dilakukan Pak Amir Faisal mengirimkan full naskah.



2.      Apa ada ketentuan khusus di Gramedia yang tidak dimiliki penerbit lain? Bagaimana trik agar naskah kita bisa langsung tembus ke Gramedia?

Tiap penerbit punya kriteria sendiri-sendiri, yang penting kualitas tulisan, genre Anda dan buku itu disukai pasar. Temanya Ilpop, tidak banyak teori, semakin banyak hal-hal praktis semakin menarik.

3.      Mungkinkah novel yang digabungkan dengan motivasi bisa menembus pasar buku di Indonesia?

Sebaiknya Anda baca-baca Novel terbitan Gramedia atau partner, disana bisa dipelajari.

4.      Adakah kendala yang dihadapi Bapak dalam menulis?

Kendala banyak, saya ada dua buku yang hingga kini tidak diterbitkan. Tetapi saya jadikan sebagai identifikasi masalah.

5.      Kenapa banyak buku yang diobral?

Terbitan lama, tidak laku-laku, isunya sudah lama.

6.      Bagaimana Bapak membangin konsistensi menulis?

Kuncinya adalah passion of life.



Dari penjelasan di atas, yang harus kita ketahui sebagai penulis adalah genre kita, passion kita. Dan jika ingin menerbitkan buku di penerbit nasional harus banyak belajar dari buku-buku yang te;ah diterbitkan sesuai genre tadi. Dan yang tidak kalah penting adalah buku yang ditulis adalah yang disukai pasar.

(Menulislah sesuai passion, berlatih terus sampai buku kita layak diterbitkan penerbit nasional)


Menulis Bersama DEKA


Tulisan Berkualitas dari Menulis Setiap Hari



Menulis setiap hari menjadi topik bahasan utama dalam pelatihan menulis. Mengapa demikian? Apakah hal yang menjadi dasar seseorang menulis? Untuk menerbitkan buku? Bagaimana jika penerbit yang mendatangi kita?

Tentu semua penulis menjawab “YA” untuk pertanyaan paling akhir. Bagaimana bisa justru penerbit yang datang kepada kita agar buku kita diterbitkan?

Sebuah bahasan yang sangar menarik ya......

Kita simak penjelasannya yuk,.....



Narasumber kali ini adalah Bapak Dadang Kadarusman(DEKA)

Menulis telah menjadi kebiasaan beliau sejak kecil, hal ini berkat Ayahanda beliau yang seorang guru sekolah dasar sering membawakan buku-buku bacaan sihingga menjadi gemar membaca.

Tema pertemuan kali ini adalah “MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU”

Ketika beliau bertanya kepada banyak orang dan mengatakan ingin seklai menulis buku dan bilang “tapi saya tidak tahu bagaimana caranya?”

Satu aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang ingin mempunyai hasil karya berupa buku bukanlah “Cara Menerbitkan Buku” tetapi tantangan terbesarnya adalah “MENULIS SETIAP HARI”

“Jika kita menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Kita tidak perlu mendatangi penerbit lagi, mereka yang datang kepada kita,”terang Pak Datang.

Hal itu telah dirasakan oleh Bapak Dadang Kadarusman, bahwa buku-buku tulisan beliau pada umumnya hasil dari penerbit datang dan menawarkan untuk menerbitkan naskahnya.

(Hmmmmm......kapan ya saya bisa seperti itu? Benar-benar suatu masayang sangat dinantikan,”kata saya dalam hati)

“Penerbit akan mendatangi Anda jika skill menulis Anda sedah sesuai dengan yang mereka cari,” Jadi jangan berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah, gampang banget. Lalu bagaimana seseorang bisa menulis setiap hari?

Penjelasan selanjutnya dari audio rekaman suara Pak Dadang yang menjelaskan tentang bahwa menerbitkan buku itu gampang, hingga ada orang yang dikenal dengan sebutan “Ghost Writer” yaitu seorang profesional menulis yang menulis buku untuk seseorang. Sehingga ketika seseorang hanya ingin untuk menerbitkan buku bisa jadi ia hanya akan menerbitkan satu dua buku dia akan berhenti. Berbeda dengan orang yang mengasah keterampilan menulisnya terlebih dahulu dan dibangun dengan menulis setiap hari, dia tidaak bergantung dengan pihak manapun, sehingga dia bisa menerbitkan buku kapan saja.

Pertama: “Mengapa kita perlu menulis setiap hari?” (WHY)

Begini penjelasan beliau:

1.      Seperti pada pepatah “Alah bisa karena biasa” jadi orang yang terbiasa melakukan sesuatu akan mahir dalam melakukannya.

2.      Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Dengan menulis setiap hari ketika melihat apapun, merasakan sesuatu selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat an kita rasakan itu ke dalam bentuk tulisan. Dan itu terjadi secara refleks saja.

3.      Menulis setiap hari merupakan healing remedy

Menulis setiap hari menjadikan pribadi yang lebih sehat.

Jadi,.....

“Kenapa perlu menulis setiap hari, karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya, melainkan orangbyang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.”

Maka berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Bisa dengan satu hari satu artikel, tidak ditentukan jumlah katanya. Artikel adalah sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain.

Dalam tahap belajar, tidak terlalu dipikirkan soal ada yang baca apa tidak, karena orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif. Yang penting menulis saja dulu.

Kedua: Sekarang kita lanjut dengan membahas tentang” WHAT”

“What makes you write something?”

Pertanyaan sederhana, namun orang yang tidak menemukan jawabannya akan berhenti di tengah jalan. Maka tanyakan pada diri sendiri apa yang mendorong kita untuk menulis, apa sih tujuan kita menulis?

Ide apa saja bisa menjadi tulisan dengan sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu ke dalam tulisan. Semua hal yang kita tangkap dari panca indera kita bisa menjadi ide dalam menulis. Dan karena rangsangan itu selalu setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari.



Lanjut dengan tanya jawab....

1.      Apa strategi dan tips untuk memilih penerbit yang sesuai dengan buku yang akan kita terbitkan?

Jika masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Terus ikut kursus/pelatihan menulis sambil membuat naskah dan konsultasikan dengan penyelenggara. Biarkan hasil karya itu berseliweran di ruang publik.

2.      Utuk masa berapa lama tulisan itu dikumpulkan?

Targetkan 1 karya tulis. Sepanjang apa?berapa kata? Bebas, yang penting karya tulis itu bisa menampung pikiran sehingga pembaca mengerti. Tidak ada standar berapa lama masa pengumpulan, kecuali punya kontrak dengan penerbit.

3.      Mulai dari mana untuk menulis?

Mulai saja dari sebuah KATA yang terlintas dalam pikiran, nanti akan mengalir dengan sendirinya.

4.      Dalam menulis, kita menentukan judul dulu ataukah menulis artikelnya baru menentukan judul?

Bisa kedua-duanya, judul dulu baru menulis artikelnya, atau artikelnya ditulis baru tentukan judulnya.

5.      Bagaimana menjaga agar bisa istiqomah dalam menulis?

Itulah pentingnya What Makes You write, yang akan menentukan tingkat istiqomah kita dalam menulis.



Kesimpulan

Temukan, hal apa yang bisa membuat kita  inginmenulis, apa tujuan kita menulis menulis. Jika sudah ketemu, dengan sendirinya menulis secara produktif.

Menulis itu untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Jadi berikanlah yang terbaik kepada tulisan kita sendiri. Lewat tulisan, kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Teruslah menulis, karena dengan menulis engkau melayani diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.








Puasa Bersama Bapak_part3

Rasa kantuk tak bisa ditahannya hingga Rian tertidur sesaat setelah masuk kamar. kamar yang juga menjadi satu dengan kamar Bapak itu memiliki dua buah dipan dengan kasur yang sudah tidak terasa ada kapas di dalamnya. beralaskan kain batik panjang yang telah pudar warisan dari neneknya. Tak terlihat rasa tak nyaman meski dipan itu kadang berderit saat Rian menggeliatkan tubuhnya. 

"Cah bagus.... duduk sini dekat simbah.,"suara lembut itu membawa langkah Rian segera mendekat ke arah simbah putri yang begitu mengasihi dirinya. "Mbah Putri kok lama nggak pulang Mbah?" Rian bertanya sambil merebahkan kepala di pangkuan sang nenek yang telah lama tak ditemui. tak ada cerita dari tutur neneknya seperti saat Rian masih balita. Hanya tatapan teduh yang membuat Rian tak mau beranjak dari dekat Mbah Putri. "Kenapa Mbah Putri tak seperti biasanya,"batin Rian.
"Pulanglah Nak....titip Bapak, jaga Bapakmu ya Cah Bagus...,"tutur Mbah Putri hingga tak lagi ia terlihat dari pandangan Rian.
"Mbah....tunggu Rian.....Mbah....Mbah....,"Rian terus memanggil meski tak surut langkah sang nenek meninggalkannya. Rian berlari mengejar nenek di padang berkabut tak tentu arah.
Harun terjaga mendengar Rian berteriak dalam tidurnya. Didekatinya tubuh sang putra, ia mencoba membangunkan Rian. 

Rian terjaga dari tidurnya ketika tangan bapak menggoyang-goyangkan tubuhnya. Rasa lelah terlihat dari wajah dan peluh yang membasahi tubuhnya. ia duduk di tepi dipan dengan nafas yang masih tak teratur. Bapak membawakan gelas berisi air putih dan segera ia menghabiskan isi gelas itu. Dilihatnya jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 03.00 pagi, ia bergegas menuju dapur untuk menghangatkan menu makan sahurnya bersama Bapak. 
"Ini untuk Bapak,"Rian mengembalikan sebutir telur yang diletakkan Bapaknya di piringnya. Namun Bapak kembali memberikan sebutir telur itu ke piring Rian. "Bapak hanya menggelengkan kepalanya tanda ia ingin telur itu untuk putranya. "Terima kasih ya Pak...oh iya Rian kan sedang masa pertumbuhan, jadi Bapak kasih telurnya buat Rian ya,"Rian terus mengajak Bapaknya bercakap-cakap sambil menunggu adzan subuh dan mereka berdua menuju tempat ibadah mereka. 

"Tadi Rian bertemu Mbah Putri,"Rian bertutur sambil melihar wajah Bapak. Meski Bapak tak menjawab namun terlihat ia berpikir, tak lagi wajah datar yang ditampakannya. Secercah harapan membuat Rian terus bercerita tentang mimpi yang membuat ia gelisah dalam tidur dan dibangunkan Bapak. Selesai shalat Rian mengajak Bapak menikmati udara pagi di dekat sungai.
"Untung saja Bapak segera membangunkaku, Rian capek mencari Mbah Putri nggak ketemu-ketemu, pasti kalau Bapak ada di dekat Rian..Mbah Putri nggak pergi,"dengan semangat ia bercerita.



Koneksi Antar Materi 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

  COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK A.       Paradigma Berfikir Coaching 1.        Paradigma berpikir yang pertama adalah fokus pada  co...