Jumat, 12 Juni 2020

Pengalaman n Ngeblog Mr. Bams


Kisah Ngeblog di Wordpress



Blog menjadi salah  satu  media  yang dapat digunakan dalam aktivitas tulis menulis. Menulis dan membaca menjadi bagian penting dalam dunia literasi. Penulis yang baik tentulah seorang yang gemar membaca. Sumber bacaan tidak hanya dengan media cetak, namun juga media elektronik, salah satunya adalah blog.

Materi belajar menulis kali ini akan disampaikan oleh narasumber yang telah menekuni dunia “ngblog” sejak masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Tentu tak diragukan lagi banyaknya pengalaman yang telah beliau rasakan di dunia “Blog” Kita akan menyimak penuturan Bapak Bambang Purwanto, yang biasa kita panggil dengan sebutan “Mr. Bams” dan menjadi moderator pada kegiatan Belajar Menulis.

Perkenalan dimulai dari cerita beliau ketika terlahir sebagai anak kembar dengan saudara kembar perempuan beliau.

“Ngeblog” dimulai beliau sejak berada di SMP Taruna Bakti yakni tahun 2009 yang saat itu beliau diminta gurunya untuk membimbing ekstra kurikuler “Blog” dengan menggunakan multiply.

Saat ini Mr. Bams adalah seorang konsultan di perusahaan pemetaan sebagai tenaga administrasi yang mengoperasikan komputer. Menyukai dunia menulis membawa beliau juga menjadi seorang pendongeng sejak tahun 2003. Mendongeng memerlukan banyak bahan bacaan sehingga  pada tahun 2011 beliau membuat Taman Baca di rumah sendiri.

Sejak tahun 2011 itu label “Pegiat Literasi” telah melekat dari diri Mr. Bams yang juga dikenal dengan Gol A Gong, penulis hebat “Balada si Roy”. Pendiri dari sebuah taman bacaan keren bernama “Rumah Dunia”.

Prestasi di bidang literasi telah beliau raih ketika tahun 2019, SMP beliau Taruna Bakti  mendapat juara Literasi Kategori Utama yang saat itu Mr. Bams sebagai Ketua Tim Literasi. Beliau juga mendapat Anugerah Penggiat Literasu dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Di tahun yang sama, 2019 Mr. Bams mengikuti ajang Guru Inspiratif Een Sukaesih dan masuk enam besar, mendapatkan penghargaan dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat dan Bapak Gubernur.

Apa tujuan ngeblog?

Tujuan membuat Blog bagi Mr. Bams adalah:

1.      Malu sebgai guru TIK nggak punya blog

2.      Malu sebagai penggiat literasi nggak punya blog

3.      Berbagi pengalaman

4.      Menyimpan tulisan sepanjang zaman (bukan sepanjang hayat)

5.      Menghasilkan rupiah

Apa saja isi dari blog?

1.      Isilah yang disukai

Senang menulis cerpen, tulislah cerpen. senang puisi tulis puisi, dll.

2.      Isilah yang bisa membantu orang lain, tidak hanya pengetahuan atau informasi.

Sebagai contoh apa yang beliau lakukan dengan OmJay, dengan membuat daftar hadir untuk peserta Belajar Menulis saat ini.

“Lakukan apa yang mau dan bisa kita lakukan. Banyak orang yang bisa tapi kadang tidak mau melakuakannya. Bermodal mau maka akan menjadi bisa.” Terang Mr. Bams.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, diantaranya sebagai berikut:

1.      Bagaimana agar bisa fokus menulis di blog?

Berdamailah dengan diri sendiri, buatlah target menulis. Seminggu sekali, dua hari sekali, atau setiap hari. Tingkatkan intensitasnya jika telah terpenuhi.

2.      Apakah perbedaan menulis di blog satu dengan yang lain?

Menulis di blog bisa dimana saja, ada blog.spot, ada wordpress, dan ada juga di web. Semua tergantung selera. Boleh punya blog lebih dari satu, perlu mengelola blog yang dimiliki.

3.      Apa kendala ngeblog?

Pertama jaringan yang tidak bersahabat, padahal kita mau posting.

Kedua adalah habis ide, solusinya dengan membaca.

4.      Bagaimana agar blog yang kita miliki banyak dikunjungi?

Pertama, tergabung dalam komunitas

Kedua, sering memperkenalkan blog kita kepada yang lain di sosial media kita.

Ketiga, rajin berkunjung ke blog orang lain.

Keempat, buat blog kita untuk membantu orang lain.

5.      Bagaiman sebuah blog bisa mendatangkan rupiah?

Sebagi contoh, kita punya keahliah atau punya barang, promosikan di blog tersebut.

6.      Apa bedanya blog berbayar dan blog gratis?

Perbedaan fasilitas, penampilan  berbeda. Yang penting optimalkan saja yang ada, tidak usah pilih berbayar kecuali ingin naik kelas.



Terus menulis, menulis yang bermanfaat untuk pembaca, bangun komunitas agar tulisan kita memiliki banyak pembaca. Menulis, menulis, dan menulis.


Senin, 08 Juni 2020

Guru Inspiratif Emi sudarwati


Pegiat Literasi Guru dan Siswa



Menjadi teladan dalam berliterasi tak hanya untuk sesama pendidik, namun akan sangat berpengaruh bagi siswa yang diajar. Menjadikan literasi sebagai sebuah kebutuhan bagi generasi muda tentu akan menjadikan generasi yang semakin berkualitas. Literasi menulis salah satu keterampilan yang harus diasah dengan banyak latihan yakni dengan banyak membaca dan menulis.

Belajar Menulis kali ini mendatangkan narasumber yang telah melahirkan ratusan buku yang ditulis solo maupun antologi bersama guru maupun siswa. Emi Sudarwati, guru Bahasa Jawa di SMP Negeri 1 Baureno Bojonegoro, Jawa Timur. Lahir di Lamongan, 20 November 1975, Juara I Lomba INOBEL kategori Sorak(Seni, Olah Raga, Agama, Muatan Lokal dan Bimbingan Konseling) tahun 2016. Penerima penghargaan Guru Kreatif Balai Bahasa jawa Timur tahun 2015.

Menjadi penggerak literasi bersama siswa-siwanya hingga menjadi perhatian banyak sekolah setelah dikabarkan oleh Harian Radar Bojonegoro sehingga buku-buku tulisan beliau dan para siswa banyak dicari untuk dibaca dan belajar menulis. Langkah beliau menginspirasi sekolah-sekolah lain, dan diliput oleh berbagai media.

Tahun 2015, beliau mendapat tugas untuk mengikuti lomba Inobel tingkat nasional dan berhasil masuk sebagai salah satu finalis yang berjumlah 102 peserta seluruh Indonesia. Pengalaman tahun itu menjadi sebuah kebanggaan karena dapat belajar bersama guru-guru hebat dari seluruh Indonesia.

Tahun 2016, beliau mengikuti seleksi Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro dan mendapatkan hasil sebagai juara ketiga. Di tahun tersebut, beliau juga kembali mengikuti seleksi Karya Inobel atas keinginan pribadi berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Bukan dengan karya baru, namun karya lama yang diedit, dengan tambahan sesuai yang diberikan oleh dewan juri hingga memperoleh hasil sebagai Juara I Inobel kategori Sorak.

Pengalaman di Negeri Belanda mengikuti short Course, dari hasil kejuaraan Inobel. Belajar sistem pembelajaran di negeri kincir angin, berkunjung ke dua Universitas terbaik yaitu Windesheim dan Leiden, ke sekolah-sekolah terbaik serta berwisata.

Pulang dari negeri Belanda, masih diberi anugerah mengikuti workshop menulis jurnal di Bali. Selain dapat menikmati keindahan pulau Bali, peserta mendapat materi merubah naskah Inobel menjadi Jurnal yang diberi nama DEDAKTIKA.

Tahun 2017, beliau diundang mengikuti workshop Literasi di Kota Batam dan mampir ke negara tetangga yakni Singapura dan menghasilkan sebuah karya berjuful “Dag Dig Dug Singapura.

Bersama-sama alumni peserta Inobel, belaiu menulis dalam satu buku dan menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif. Tidak hanya melahirkan karya ilmiah, namun berbagai kumpulan cerita inspiratif, berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, dan lain-lain. Saat ini grup Patungan Buku Inspiratif lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (satu Buku Siswa Indonesia).

Tahun 2018, beliau merubah nama grup menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI)

Hal itu dilakukan karena sejak tahun 2018, lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI. Beberapa undangan dari daerah-daerah mulai berdatangan, sehingga beliau hanya menerima undangan sebagai narasumber pada hari Sabtu-Minggu atau Jum’at sore.

Beliau juga aktif sebagai penulis di Pusat Belajar Guru(PBG) Bojonegoro, aktif di PGRI, sebagai jiri Lomba menulis buku, memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar dan lebih kreatif dalam menulis. Menghimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media. Dengan terus menenrus mengirimkan karya, berarti terus menerus belajar, belajar meminimalisir kesalahan.

Tahun 2019, beliau mengawali terbitnya buku “Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku”. Karya yang ditulis berrdua dengan suami beliau agar ikatan pernikahan semakin bahagia. Terus menulis dan menerbitkan buku baik buku solo maupun antologi.

Saat ini beliau mengelola TBM Kinanthi.

Dalam menerbitkan buku, beliau bekerjasama dengan Majas Grup (Penerbit Majas, Dwi Putra Jawa, dan Praktek Mandiri). Berbagai naskah dapat diterbitkan di penerbit tersebut, sesuai dengan ketentuan.



Menjadi sosok “Guru” yang telah membuktikan dirinya sebagai tauladan dan menjadi penggerak literasi bagi guru maupun siswa patut kita teladai dari Ibu Emi Sudarwati. Ratusan karya menjadi bukti, prestasi tak diragukan lagi.

Menjadi guru Inspiratif, berkarya dan terus menulis.

Penglaman Menerbitkan Buku Bunda Astuti


Pengalaman Bunda Sri Sugiastuti



Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Belajar bukan hanya monopoli milik kawula muda atau anak-anak yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Memulai menulis pun tak harus ketika seseorang masih berusia muda, siapapun dan dari usia berapapun bisa memulai menulis. Meski usia tak lagi muda, tak menghalangi semangat seorang penulis untuk memulai dunia kepenulisan. Pengalaman dari narasumber kali ini akan menambah motivasi kita semua untuk semakin mencintai dunia menulis dan menerbitkan buku.

Narasumber kita kali ini adalah Ibu Sri Sugiastuti, yang lahir pada tanggal 8 April 1961. Menghabiskan masa kecilnya di Jakarta dan mengenyam pendidikan S1 Bahasa Inggris di UNS Surakarta. Setelah mengajar di Jakarta, beliau kembali ke kota Solo pada tahun 1990 hingga sekarang dan menyelesaikan pendidikan S2 Bahasa Inggris. Dari masa inilah beliau mulai menulis yakni tahun 2010 dengan buku “SPMU Ujian Nasional Bahasa Inggris unyk SMK” penerbit Erlangga dan buku antologi “Diary Ketika Buah Hati Sakit”.

Banyak buku yang telah beliau tulis baik buku solo maupun keroyokan dengan penulis-penulis lain. Aktif menulis di blog Gurusiana dan berbagai komunitas menulis lainnya.

Dimulai dengan ice breaking untuk membuat lebih fokus peserta dalam menyimak materi yang akan diberikan narasumber.

Penyampaian materi dilakukan dengan rekaman suara, diawali dengan cerita awal beliau mulai menulis yakni saat pendidikan S2 dengan usia yang sudah hampir mendekati usia lima puluh tahun.

Sebuah buku yang memotivasi beliau yang berjudul “Menulis Itu Gampang”, yang akhirnya membuat sebuah keyakinan bahwa bisa menulis.

Dilanjutkan cerita beliau tentang penulisan buku pendalaman materi yang diterbitkan oleh penerbit Mayor Erlangga yang ditulis bersama rekan di MGMP Bahasa Inggris. Dari buku tersebut beliau merasakan kepuasan menulis buku yang bertaraf nasional dan digunakan oleh siswa tingkat akhir serta mendapatkan royalti. Hasil penjualan buku yang tergolong laris manis dan akhirnya keluar edisi revisi dan digunakan hampir di seluruh Indonesia.

Pengalaman selanjutnya tentang menulis di Penerbit Indie yang dimulai tahun 2009 dengan nama pena Astutiana Mujono merujuk pada beberapa nama blog seperti Kompasiana. Buku yang berkisah tentang kehidupan orangtua beliau masih remaja bertemu, hingga usia beliau saat itu lima puluh tahun dengan tebal buku lebih dari empat ratus halaman.

Selain itu juga dibarengi dengan menulis buku-buku antologi di berbagai komunitas dengan berbagai tema sekitar dua puluh lima buku. Dengan menulis di antologi dapat belajar tentang berbagai macam tulisan dari teman-teman dan kita dapat memiliki ciri kepenulisan sendiri.

Proses menulis dan menerbitkan buku sendiri mendatangkan pengalaman yang membawa beliau bertemu dengan penulis-penulis lain. Buku pertama beliau “Biografi Mini” menjadi dasar dan rujukan beliau dalam menulis buku-buku berikutnya dengan mengembangkan ide. Rasa  ingin tahu yang besar menjadi motivasi beliau menulis hingga mendatangkan mentor menulis untuk mengajari beliau menulis.

Dunia penulisan yang bearagam dan beliau ikuti digunakan sebagai ajang silaturahim dan bertemu dengan sesama penulis. Pengalaman itu membuat beliau akhirnya sering diajak mengisi acara dan berbagi serta acara brdah buku.

Sebuah buku yang diterbitkan penerbit Indie yang berjudul “The Storie of Wonder Woman” yang dicetak lebih dari seribu eksemplar. Sebuah buku berjenis faksi dengan latar “True Story” dengan tujuan untuk memotivasi perempuan-perempuan lain untuk tetap semangat, sabar, dan ikhlas ketika menghadapi cobaan.

Tahun 2014, buku beliau masuk nominasi nasional berjudul “Perempuan Terbungkas” sebuah novel berkisah tentang perempuan yang hidup di era tahun tujuh puluhan dengan kehidupan yang pelik tentang seorang anak yang dibuang orangtuanya hingga mendapatkan kehidupan yang bahagia.

Buku parenting “Merawat Harapan” juga masuk nominasi sepuluh besar, yang menggambarkan bagaimana cara mengasuh anak dari usia dini hingga dewasa.

Buku  menjadi jejak atau bukti sejarah dan pemikiran-pemikiran yang bisa berguna untuk orang lain.

Berbagai jenis buku beliau tulis hingga menulis tentang “skyber” menjadi sebuah novel berjudul “Tipuan Asmara” dengan tujuan mengedukasi pengguna media sosial untuk berhati-hati agar tidak menjadi korban kejahatan di media sosial.

Kegiatan beliau di banyak komunitas yaitu: Sahabat Pena Kita, Pegiat Literasi Nasional, dll yang berjumlah sekitar dua puluh lima grup menulis.



Pengalaman yang luar biasa dari Ibu Sri Sugiastuti, semangat yang patut memnjadi contoh bagi kita semua untuk selalu berkarya, menulis dan menerbitkan buku serta di media elektronik. Keteladanan seorang Ibu dalam mendidik putra putrinya, perjalanan hidupnya yang dapat kita baca dari tulisan-tulisan beliau menjadi bukti eksistensi beliau dalam bidang literasi.

Sabtu, 06 Juni 2020

Buku dari PTK


PTK Menjadi Buku

           

Salah satu hal yang dilakukan penulis setelah menulis adalah mengumpulkan tulisannya hingga menjadi sebuah buku yang diterbitkan. Tulisan dapat berupa tulisan fiksi, faksi, maupun tulisan ilmiah. Salah satu jenis tulisan ilmiah dapat berasal dari Penelitian Tindakan Kelas(PTK). Jenis penelitian yang banyak dilakukan oleh guru untuk mendapatkan solusi bagi kelas yang diajarnya ini tak hanya bisa tersipan dalam bentuk laporan saja, namun dapat dibukukan. Bagaimana teknik mengubah PTK menjadi buku akan kita pelajari bersama narasumber Ibu Hati Nurahayu kali ini.

Materi disampaikan oleh Hati Nurahayu, S. Pd, Pengajar IPA SMP Plus Al –Amanah, Bandung. Lahir di Bandung, 01 Agustus 1980 dan beberapa kali menjadi finalis dalam event Inobel. Banyak buku yang telah beliau tulis dan diterbitkan baik di penerbit Mayor maupun penerbit Indie, dan saat ini beliau mengelola penerbitan yakni Tata Akbar.



Langkah awal untuk membuat buku dari  PTK adalah mengubah ke versi buku terlebih dahulu. Sistematika dari PTK yaitu terdiri dari beberapa bab yaitu Pendahuluan, Kajian Pustaka, Pelaksanaan, Hasil dan Pembahasan serta Kesimpulan dan Saran diubah tampilan dalam bentuk buku sehingga lebih enak dinikmati pembaca.

Memperbanyak isi materi variabel bebasnya dari kata kunci judul buku atau lebih memperluas isi bacaan berdasarkan sumber yang relevan perlu dilakukan.

Modal awal untuk bisa menyusun PTK bagi guru adalah menentukan latar belakang. Hal ini yang akan menggerakkan PTK yang akan dilakukan.

Dari PTK dapat dibuat artikel yang diterbitkan untuk Jurnal dan dapat dibuat menjadi buku. Sebuah buku akan memiliki manfaat sebagai bahan literasi bacaan pendidik lain dan menjadi referensi untuk menyususn PTK pendidik lain.

Banyak versi dan ciri khas setiap guru dalam menyusun PTK sehingga dalam menerbitkan buku dari PTK, penulis diharapkan telah mengubah PTK nya menjadi selayaknya buku yang lebih oke penampakannya untuk dibaca dan lebih menarik.

Dalam menentukan judul dari buku yang berasal dari PTK dapat mengambil inti dari PTK tersebut.

Ketika PTK diubah menjadi buku boleh dilakukan dari sebuah PTK atau beberapa PTK dengan penulis yang berbeda, karena buku dan PTK memiliki nilai yang berbeda. Hal yang selalu diingatkan narasumber adalah memperbanyak isi materi bahasan.

Berapa jumlah halaman untuk sebuah buku dari PTK?

Kisaran jumlah halaman yang memadai untuk kepentingan angka kredit adalah 700 halaman, jelas narasumber.

Banyak membaca buku-buku best seller menjadi kunci bagi editor untuk dapat membuat tulisan menjadi menarik dan enak dibaca. Melihat bagaimana  buku – buku best seller menyajikan materi yang menarik dan melihat tata letak buku tersebut menjadi acuan dan referensi untuk menampilkan buku dari PTK.

Setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing sehingga penulis bebas tentang bagian mana yang akan ditambah dan dihilangkan dari PTK ketika menjadi sebuah buku. Yang diutamakan adalah pembaca dapat memahami isi buku kita secara lengkap dan mengena.

Penulis yang literasinya banyak akan menjadikan buku nya juga semakin bagus.

Banyak peserta menanyakan tentang siklus pada penyususnan PTK pada materi kali ini.

Siklus PTK, jika dua siklus sudah terjadi peningkatan tidak perlu dengan siklus ketiga kalau siklus akhir menurun, lakukan refleksi an tindakan lagi. Variabelnya jangan terlalu banyak, fokus pada satu variabel dan mendalam pembahasannya.

Mengolah kalimat PTK, jangan ada kata-kata laporan PTK dari kata pengantar atau pembuka buku.



Melakukan Penelitian Tindakan Kelas, dapat menghasilkan beberapa hal yang sangat bermanfaat bagi guru, yaitu dapat mengatasi masalah yang ada di kelasnya, dapat menghasilkan laporan PTK yang bisa diseminarkan dan dipublikasikan dalam bentuk jurnal dan juga bisa disusun menjadi sebuah buku. Semua rangkaian ini dapat menjadi tabungan seorang guru yang membutuhkan Penilaian Angka Kredit(PAK) yang sangat berguna untuk proses Kenaikan Pangkat.

Lakukan penelitian....tuliskan hasil PTK dan bukukan.




Minggu, 17 Mei 2020

Langkah Menulia Ilmiah


Langkah Menulis Ilmiah



Menulis adalah sebuah keterampilan, sehingga perlu dilatih. Banyak ragam jenis tulisan, ada cerpen, puisi, novel, dan tulisan-tulisan ilmiah. Tulisan akan menjadi enak dibaca ketika keterampilan menulis sudah terasah baik. Maka sudah semestinya terus mengasah kemampuan menulis dengan terus menulis.



Belajar menulis kali ini mengambil tema “Menulis di Media Cetak”

Materi diberikan oleh narasumber bernama Dra. Rahmi Wilandai, M. Pd, pengajar mata pelajaran ekonomi dari SMA Negeri 21 Surabaya.  Lahir di Surabaya, 1 januari 1965, dengan pendidikan terakhir adalah S2 Pendidikan Ekonomi.

Pengalaman menulis ilmiah membawa Ibu Rahmi Wulandari meraih prestasi Juara LKTI hingga tingkat nasional.

Memulai terbiasa menulis dari hal-hal yang dialami seperti saat berangkat kerja, hal-hal menarik yang terjadi dituliskannya secara garis besar dan ketika sampai di rumah akan dikembangkanlah tulisan yang telah dibuat garis besarnya tadi.

Pesan beliau, “Janganlah enggan untuk memulai menulis”

Membaca di perpustakaan menjadi rutinitas Ibu Rahmi di waktu-waktu luangnya. Dengan membaca selain karena suasana perpustakaan yang nyaman, beliau juga memperoleh inspirasi untuk menulis.

Dalam menulis KTI atau artikel dibutuhkan wawasan sehingga diperlukan untuk rajin membaca baik membaca buku cetak maupun buku elektronik.

Jenis penelitian, ada Penelitian Deskriftif, Penelitian Eksperimen(penelitian murni), dan Penelitian Tindakan Kelas(PTK).

PTK merupakan penelitian yang mudah bagi guru karena ditulis dari kejadian sehari-hari saat mengajar. Jadi semua guru pasti bisa menulis PTK.

Mengikuti lomba KTI (PTK) pertama kali diikuti beliau tahun 2013 tanpa target, hanya mencari pengalaman. Di tahun tersebut sedang gencar-gencarnya workshop penulisan PTK dan Karya Ilmiah, dan banyak guru yang penasaran bagaimana menulis PTK.

Sebuah keberhasilan harus disertai usaha, semangat serta kerja keras. Mulailah dengan belajar disiplin diri menulis setiap hari. Kalau sudah terbiasa akan terasa enak, dan kecanduan untuk selalu menulis dan menulis.

Meski tema kali ini tentang Menulis di Media Cetak, namun pertanyaan seputar KTI dan PTK lah yang banyak menjadi topik permbahasan.

1.      Penelitian deskriftif itu seperti apa?

Peneliti mampu mengidentifikasi mengapa, apa dan bagaimana fenomena sosial. Banyak sekali gejala sosial yang terkadang kita bisa memprediksinya.

2.      Jika PTK menggunakan media pembelajaran, maka ada 3 variabel, dan harus ada lembar pengamatan penggunaan media.

3.      PTK minimal 2 siklus, 3 siklus lebih baik.

4.      Hasil penelitian menggambarkan bagaimana hasil penelitian dari siklus 1 – 3 disertai data tabel hasil penelitian.

5.      Ketika menyusun RPP satu semester, rencanakan bab mana yang akan dibuat PTK, dan kira-kira siswa mengalami kesulitan, pakai metode apa, model pembelajarannya bagaimana. Sehingga betul-betul  dipersiapkan PTK nya.

6.      Abstrak idealnya ada bahasa Indonesia dan ada yang bahasa Inggris. Dengan membuat PTK kita bisa mendapat: Jurnal Ilmiah baik cetak atau online.

7.       PTK juga harus diseminarkan. Ada berita acara, ada undangan dan lain-lain.

8.      Tentang penulisan artikel, bisa menulis dari kejadian, peristiwa, atau gejala yang ada di sekitar kita sehari-hari. Ada masalah, ada bahasan, ada solusi, dan kirim ke redaksi majalah atau surat kabar. Dengan jumlah kata 500 sampai dengan 1000 kata.

9.      Semakin sering menulis artikel dan semakin sering dimuat di Surat Kabar Regional atau nasional, maka semakin banyak tabungan Publikasi Ilmiah yang dimiliki.

10.  Untuk merangkai kata-kata dalam PTK perlu banyak membaca dan latihan.



11.  Artikel di jurnal adalah artikel ilmiah hasil penelitian dan non hasil penelitian. Artikel untuk koran tau majalah adalah artikel ilmiah populer.



Menulis fiksi maupun non fiksi, keduanya memerlukan latihan. Laihannya adalah sering menulis, banyak membaca. Teruslah menulis...menulis...dan menulis.

Prestasi Guru Daerah 3T


Prestasi Pendidik Daerah 3T



Bekerja di tempat yang nyaman mungkin menjadi dambaan banyak orang. Namun jalan kehidupan tentu tak selalu bersama dan seiring dengan yang diinginkan. Namun selalu ada tantangan di setiap suasana, disinilah kita akan diuji bagaimana menghadapi setiap tantangan yang hadir dalam lika liku perjalanan masing-masing. Berprestasi pun tak harus hadir dari suasana yang mendekati sempurna, semua mampu berprestasi tanpa pandang lokasi.



Seorang Guru dari SMA Negeri Probur, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur akan menuturkan perjalanan bagaimana ia meraih prestasi gemilangnya di berbagai ajang lomba tingkat nasional.

Dengan nama lengkap Arif Darmadiansah, S. Pd.,Gr berasal dari Kota Solo, dengan keahlian Biologi dan Komputer telah meraih banyak prestasi baik pada lomba Inovasi Pembelajaran maupun Guru Dedikasi. Tak hanya hebat dalam ajang kompetisi, ia juga seorang penulis buku yang telah menghasilkan beberapa buku terutama tentang Buku-Buku Latihan Soal.

Dimulai dari sebuah ide atau gagasan sederhana, yakni ingin membuat kelas menjadi menarik dan menyenangkan karena kurangnya sarana dan prasarana sehingga kualitas pembelajaran kurang optimal. Ide yang akan memunculkan kretivitas seorang guru untuk menghadapi masalah yang dihadapai di dalam kelasnya. Banyaknya masalah di tempat mengajar inilah yang akhirnya membawanya beradu di ajang kompetisi yang diadakan Kemdikbud yakni Lomba Inovasi Pembelajaran.

Portal kegiatan berbagai lomba dan kegiatan Kemdikbud untuk jenjang Dikmen dapat diakses pada kesharlindung.pgdikmen.kemdikbud.go.id, sedangkan untuk Dikdas dapat diakses pada kesharlindung.pgdikdas.kemdikbud.go.id.

Tahun 2016 menjadi awal Afif Darmadiansah mengikuti lomba Inovasi Pembelajaran(Inobel) yang terinspirasi dari sebuah proyektor hologram 3D.

Ingin menjelaskan materi invertebrata agar menarik untuk anak-anak yang tidak punya gambran sama sekali tentang hal terebut.

Dibuat pertama kali dengan menggunakan mika tutup CD bekas(bahan ini didapat dari teman guru)  yang dibentuk seperti prisma sebagai tempat hologramnya. Setelah ini berhasil lolos masuk finalis, bahan diganti dengan akrilik seharga tiga puluh ribu rupiah, seukuran kertas A4.  Dengan bahan akrilik tampilannya menjadi lebih jelas, gambar yang dihasilkan lebih detail dan tidak kusam.

Dalam penelitian ini metode yang dipakai adalah metode pengembangan (RnD). Dengan proses dinilai oleh pengawas sekolah dengan hasil valid atau layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Kemudian media tersebut diujicoba ke anak serta didiseminasikan ke teman guru lain.

Penerapan media tersebut dapat meningkatkan minat dan hasil belajar anak meningkat. Dari pengalaman pertama ini, beliau mempunyai gambaran yang lebih siap untuk mengikuti ajang lomba yang sama di tahun 2018.

Tahun 2018 media yang digunakan adalah Millea(Mikroskop Lensa Laser Tenaga Surya). Ide yang didapat saat pembelajaran struktur tumbuhan namun tidak tersedia mikroskop. Mata pelajaran Biologi yang seharusnya dilakukan banyak praktek salah satunya dengan mikroskop mendasari lahirnya ide ini.

Media ini menggunakan HP yang ditambah lensa laser bekas mainan anak-anak, untuk memperoleh bayangan yang diperbesar dari struktur anatomi tumbuhan.

Diawali dengan niat untuk belajar, membawa beliau mendapatkan kejuaraan sebagai bonus kreativitasnya.

Dari dua media tersebut, yakni hologram mendapatkan juara 2 di tahun 2016 dan Millea juara 1 kategori utama tahun 2018.



Sebuah cerita pengelaman yang sangat luar biasa, menginspirasi dan dapat memotivasi guru-guru untuk berkreasi hingga mendapatkan ide untuk proses pembelajaran.

Adanya masalah di kelas menjadi dasar seorang guru mendapatkan ide, kreativitas hingga sebuah inovasi. Prestasi akan menjadi nilai tambah yang didapat, namun yang pasti tujuan untuk membuat pembelajaran yang lebih baik terpenuhi. Pecahkan masalah di kelasmu, tuangkan idemu, wujudkan dalam kreativitas.

Sabtu, 16 Mei 2020

Puasa Bersaama Bapak_part7


“Kenapa Budhe?” Rian menunggu Budhe Ani yang sedari tadi terdiam.

Ia terkejut mendengar Rian bertanya, rupanya bayangan masa yang silam itu masih melekat dalam benaknya. Dipandanginya wajah Rian yang kini telah beranjak remaja. Kulit yang terlihat tetap bersih meski ia sering main di sawah diwarisi dari Suci ibunya. “Suci....lihatlah putramu kini....,” bisik hatinya berucap.

“Rian pulang dulu sana....Bapak pasti sudah menunggu,”Andi mengingatkan Rian ketika matahari telah condong ke barat. Rupanya mereka telah mengahabiskan siang itu menyelami masa yang telah lewat. Sepenggal kisah yang tetap menyisakan tanda tanya di benak Rian.

“Album foto itu jangan dibawa pulang ya...biar disimpan di kamar Dul saja,”Ani meraihnya dari tangan Rian.

“Rian juga jangan cerita tentang masa lalu Bapak dulu....,”sambungnya.

“Apakah ini yang menyebabkan Bapak sakit Budhe?”

Ani hanya menganggukkan kepala menjawab tanya dari Rian. Tak hanya Hasan yang sakit karena masa itu, Abah yang sangat terpukul dengan kembalinya Hasan dengan surat perpisahan itu. Sakit di hati itu menggerogoti raganya yang kian renta, hingga ia harus meninggalkan Emak tak sampai setahun setelah Hasan kembali.

“Bantu Emak ya Ani...Andi..,”pinta Emak sesaat setelah Abah dikebumikan. Emak adalah ibu bagi Ani dan Andi. Kepadanya Ani selalu mengadu saat ia sedang sedih, kesal ataupun bahagia. Wanita tangguh yang dengan sabar mendampingi Hasan saat ia tak lagi bisa mengendalikan diri. Mengasuh Rian dan menjadi penerang di tengah rumah mungil di tepi sawah.

Kalau tak ada Emak, mungkin penduduk akan membawa Hasan ke rumah sakit jiwa. Meski tak setiap saat ia bersikap tak wajar, namun kekhawatiran akan keselamatan Emak dan Rian menjadikan warga tak ingin membiarkannya berada di rumah.

“Hasan anak yang baik Pak Lurah, Emak percaya ia tidak akan menyakiti keluarganya, biarkan dia tetap bersama saya dan anaknya,”pinta Emak ketika Kepala Desa mewakili warga meminta Emak merelakan Hasan dibawa untuk penyembuhan di rumah sakit.

Emak selalu yakin bahwa anaknya akan kembali seperti dulu kala. Seorang laki-laki yang baik dan perhatian dengan dirinya. Jalan hidupnya saja yang memang harus melewati masa yang sulit dalam pernikahannya. Jiwa mudanya belum siap menerima kenyataan pahit diantara harapan indahya.

Dan kini setelah Emak tak lagi bersama Hasan, Rian pun tetap menemani Bapak dengan sabar. Ia memiliki jiwa yang kuat dan sabar seperti Mbah Putri nya itu.

Tawaran untuk menjadi anak angkat berulangkali ia tolak dengan kata-kata polosnya. “Rian ingin hidup dengan Bapak, jangan bawa Bapak pergi,”jawaban Rian kecil sepeninggal Emak.

Hampir tiga tahun Rian telah menjalani hidup hanya dengan Bapak di rumah mungil itu. Masa yang membuat ia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tak pernah putus harapan menanti Bapak kembali.

“Bapak....Rian pulang,”ia bergegas mencari Bapak di belakang rumah ketika ditengoknya rumah sepi.

Benar saja, Bapak sedang membersihkan rumput-rumput di kebun belakang rumah. Melihat Rian mendekatinya ia berhenti dari kesibukannya itu. Meski masih tanpa kata, namun Rian melihat binar yang berbeda di wajah Bapak. Ia tak lagi berwajah dingin, ada harapan dalam sorot mata di depannya.

“Rupanya Bapak telah memanen pisang dan singkong...daunnya sekalian buat sayur ya,”Rian membantu Bapak memetik daun-daun singkong yang ranum itu. “Nanti Bapak yang bikin bumbunya ya, Rian nggak bisa kalau masak daun singkong..nah Rian bagian merebus singkong atau menggoreng saja,”sambil mencuci sayuran ia terus mengajak Bapak berbicara. Tak ia pedulikan kapan Bapak akan menjawabnya. Bapak selalu memahami apa yang ia katakan setiap hari. Bapak memang tak berbicara, namun ia melakukan apa yang diucapkannya.

Keduanya kini asyik memasak di dapur, dengan cekatan Rian menyiapkan semua bumbu-bumbu yang hendak dihaluskan oleh Bapak. Ia pun menyalakan kayu bakar dalam tungku yang di atasnya telah ada kuali berisi singkong hasil panen tadi. Bapak menyodorkan sepiring gula merah yang telah diiris kepadanya. “Ini dimasukkan juga ke kuali ya Pak?”tanya yang dijawab dengan anggukan. “Ini namanya apa pak? Kalau kolak kan pakai santan kelapa, lha ini cuma pakai gula merah,”Rian terus berbicara sambil mengaduk-aduk masakannya biar tidak gosong.  

“Oh iya...dulu Mbah Putri juga sering masak begini ya Pak, tapi Rian nggak tahu namanya juga, malah Rian makannya habis dua mangkok.”

“Rian mandi dulu ya Pak...ini sudah matang, tinggal Bapak yang masak sayurnya,”Rian meninggalkan Bapak menuju kamar mandi.


Koneksi Antar Materi 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

  COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK A.       Paradigma Berfikir Coaching 1.        Paradigma berpikir yang pertama adalah fokus pada  co...